Dangerously Delicious

Dscn2871_resizeDscn2873_resize



Nasi becek nganjuk... seperti soto tapi dengan daging plus sate kambing.


Dscn2875_resize

 



DHOK! Soto 'dhok' ( di Jakarta ganti nama menjadi soto gebrak), di Jombang

 

Dscn2900_resize Dscn2901_resize Dscn2903_resize

 







Di bawah pohon rindang, di dekat Taman Makan Pahlawan Solo (tapi gak serem sama sekali!) es kelapa muda dan kupat tahu sangat pas untuk siang hari Solo yang gerah itu..

Dscn2907_resize Dscn2913_resize







Malam hari, malam pas untuk wedangan.. nasi kucing ditambah wedang jeruk
nipis-kencur-jahe sungguh nikmat...

Dscn2914_resize Dscn2916_resize




Oleh-oleh Solo: intip.

Dscn2957_resize Dscn2958_resize Dscn2959_resize




Nasi gudeg ceker yang legendaris di Margoyudan. Mak nyus!

                            

JALAN PANJANG MENUJU KTP BANDUNG

Gara-gara ditolak bikin account di Bank Niaga karena KTP-nya bukan KTP Bandung, saya memutuskan untuk bikin KTP Bandung. Toh karena udah berdomisili di Bandung sekian lama, dan ke depan masih akan tinggal di sini, pikir saya lebih baik bikin aja. Supaya nanti bisa bikin SIM di sini, bikin account, de el el.  Teman-teman di kantor menganjurkan saya untuk nembak aja ke kelurahan, kata mereka yang sudah pernah melakukan, biayanya sekitar 200 ribuan.  Tapi saya pikir waktu itu, udahlah, urus sendiri aja. Kata Pak RT juga kalau ngurus sendiri biayanya bisa setengahnya dari itu. OK deh..

 Perjalanan dimulai dengan membuat surat keterangan pindah dari Karanganyar. Ini saya lakukan bulan April, sekalian pulang nengok orang tua sehabis lapangan di Salatiga. Pengurusan cuma butuh setengah hari, di kelurahan hanya menyerahkan KTP asli, fotokopi KK dan KK asli, sama foto. Oya, saya harus bikin foto gara-gara lupa gak bawa. Dari kelurahan, saya jalan kaki ke kecamatan, wong jaraknya dekat, dan dari kecamatan dapat Surat Keterangan Pindah.

 Di Bandung, pengantar dari RT dan formulir Master Data (itu..buat bikin KK), saya ke kelurahan. Kejutan pertama, ternyata telah terjadi pemekaran, dan kompleks tempat saya tinggal tidak lagi masuk ke kelurahan Margasenang. Kejutan kedua, ternyata saya harus minta Surat Izin Tinggal yang ditandatangi kepala dinas kependudukan sebagai wakil dari walikota. Blaikkkk…. Sebenarnya sih pegawai kelurahan mau ngurusin (dengan duit tentunya), tapi saya udah kadung pengin sendiri.  Okelah, dari kelurahan saya meluncur ke Dinas Kependudukan di Jalan

Ambon. Tahap pertama saya cuma beli blanko sama map. Tapi di dalamnya persyaratnnya, alamakkk.. buanyak banget! Ini nih dokumen-dokumen yang harus dilengkapi:

  • Permohonan izin tinggal ditujukan kepada Walikota Bandung
  • Surat Jaminan Tempat Tinggal, ditandatangani Ketua RT, Ketua RW, Kelurahan, dan Kecamatan (ini sama prosesnya bikin KTP!)
  • Surat Keterangan PIndah dari kecamatan asal      
  • Surat Catatan Kriminal dari kota asal
  • Surat Keterangan Jaminan Kerja dari kantor tempat kita kerja (untung.. yang ini gampang), diketahui oleh lurah dan camat tempat kita tinggal (wallah!)
  • Fotokopi akte kelahiran
  • Fotokopi surat nikah
  • Foto 2x3 sebanyak 3 buah


Walah! Saya terpaksa minta tolong ke kakak untuk bikinin Surat Catatan Kriminal, abis waktu itu
kan nggak bikin. Lha ternyata bikin surat ini harus dilampirkan Surat Keterangan Pindah-nya.. terpaksa harus dikirim ke Karanganyar. Kesulitan lain, ternyata kantor kelurahan dan kecamatan yang baru itu juauh… mana harus bolak balik lagi. 

Akhirnya dari mulai saya minta suratketerangan pindah dari Karanganyar pertengahan April, KTP baru jadi awal Juli lalu, terutama karena ketidaktahuan saya sehingga harus melengkapi dokumen-dokuemn tadi bolak-balik, ditambah kesibukan di kantor yang nggak bisa langsung ngurus. Kalau dokumen lengkap dan semua langsung jadi, berapa total waktu yang dibutuhkan? Ini dia rinciannya:

  • Pembuatan suratpindah dari kelurahan, kecamatan, serta surat catatan criminal dari daerah asal – 1 hari
  • Minta tanda tangan dari RT, RW, Kelurahan, dan Kecamatan untuk Surat Jaminan tinggal: 1 hari
  • Dokumen masuk ke Dinas Kependudukan sampai keluar Surat Izin Menetap: 1 minggu
  • Pengurusan KTP dan KK dari RT, RW, Kelurahan, dan Kecamatan: 1 hari
  • Menunggu KTP dan KK jadi dari kecamatan: 3 – 4 hari, tergantung Pak Camat sibuk nggak.

Jadi barangkali totalnya kalau lancar pun kira-kira 2 – 3 minggu

Welehe2.. dan gimana biayanya? Ternyata kok nggak jauh-jauh dari nembak. Ini nih perinciannya:

  • Biaya administrasi di Kelurahan Karanganyar = 5.000
  • Biaya admin di Kecamatan Karanganyar = 10.000
  • Surat Catatan Kriminal dari Polres Karanganyar = nggak tahu, dibayarin kakak
  • Formulir dan Map dari Dinas Kependudukan = 3.000
  • Stempel dari Kelurahan Mekarjaya untuk Surat Jaminan Tinggal = 20.000
  • Stempel dair Kecamatan Rancasari untuk Surat Jaminan Tinggal = 10.000
  • Biaya administrasi di Dinas Kependudukan = 110.000
  • Biaya permohonan KTP dan KK di Kelurahan = 14.000
  • Biaya permohonan KTP dan KK di Kecamatan = 25.000

 Total biaya-biaya formulir: Rp 197.000, belum ditambah biaya-biaya fotokopi, biaya angkot/becak.

Memang di negeri tercinta ini, betul-betul tidak ada insentif buat ngurus dokumen lewat jalur normal!

Islamic Jihadist is 'Front Militer'

In ‘Commander in Chief’ last night’s episode (in Metro TV), the president had a problem with a gun dealer. This gun dealer tried to sell the guns to a group called – guess what – Islamic jihadist. Well that’s not surprising that an American movie now put “Islamic jihadist” as the enemy, just like they did with “the Russian”. But it is interesting that Metro TV translated these words (Islamic jihadist) into “Front Militer”  (military front). Maybe Metro TV tried to make this series not so prejudiced against Islam, but from the beginning of this series (at least from what I’ve seen in Metro TV) Muslim groups have been portrayed as the enemy. Oh well. Maybe one day we can have a TV series that tells about the daily life of Osama bin Laden 

Pulang kampung adalah penemuan kembali..

Karanganyar, kota kecil saya adalah kota yang dari luar, tampaknya, begitu-begitu saja. Toko-toko di jalan utamanya (yang selalu dilalui pak Harto kalau mau nyekar di makam Ibu Tien) sebagian besar masih toko-toko yang sama dari jaman saya SD. Juga Pak Min, tukang bakso langganan kami, serta warung sate mbak Dul masih tetap dengan setia nongkrong di pojok taman (meskipun rambut di kepala Pak Min sudah memutih semua).

Tapi tiga hari berlibur di sana, saya baru  mengamati banyak juga perubahan yang terjadi. Taman Pancasila yang dulu dipagar dan tertutup kini benar-benar menjadi taman umum. Pagar dibuka, tempat duduk disediakan, warung-warung lesehan dan pedagang kaki lima menjual makanan dan pernak-pernik lainnya. Di siang hari, anak-anak SMA akan duduk-duduk di bangku taman, mungkin sekedar mencari angin. Di sore hari, sekitar jam empat, taman akan penuh dengan anak-anak yang sudah bangun tidur, mandi, dan jalan-jalan ke taman untuk disuapi makan malam atau jajan. Malam hari, ganti anak-anak muda dan keluarga-keluarga yang mengisi warung-warung jajan itu. Pendeknya taman itu telah berubah menjadi layaknya taman kota. Hijau dan seronok.

Begitu pula obyek-obyek wisata baru mulai bermunculan. Salah satu yang lumayan menarik adalah Agrowisata Sondokoro di Tasikmadu. Tempat wisata ini berlokasi di dalam pabrik gula Tasikmadu. Rupanya sejak mengalami kemunduran, pabrik gula ini kemudian bertransformasi menjadi obyek wisata. Pabrik gulanya sendiri sih masih jalan.

Objek wisata ini cukup menarik, ada arena outbound  untuk anak-anak, ada sebuah taman dengan besi-besi tua bekas kereta api dipajang, ada berbagai lokomotif tua yang dipamerkan, serta yang paling yummy, adalah minuman terbuat dari sari tebu. Minum es sari tebu di siang harinya Solo yang terkenal panas dan sumuk, hmm..segar dan nikmat! Rasa manis tebu (bukan gula) ini benar-benar membawa saya ke nostalgia masa kecil mencuri tebu dari ladang orang atau meminta sepupu dan kakak-kakak laki-laki saya untuk mengejar truk tebu untuk dapat menarik satu atau dua batang tebu.

Daya tarik utama dari Sondokoro ini barangkali memang menaiki kereta (uap?) yang mengelilingi pabrik. Dari bangunan-bangunan lamanya yang bergaya Belanda, rumah-rumah karyawan pabrik gula, serta luas pabrik, kelihatan betul bahwa pabrik ini pernah mengalami masa kejayaannya. Pabrik ini didirikan oleh KGPA Mangkunegoro IV yang konon kabarnya raja yang pintar dan cakap. Kereta api dan bendi yang dinaiki oleh sang raja ketika mengunjungi pabrik gula ini juga dipajang di depan. Tetapi kejayaan pabrik gula itu telah menurun. Bangunan-bangunan di dalam pabrik tampak tua, kusam, rumput liar tumbuh di sepanjang rel kereta serta di halaman bangunan-bangunan pabrik. Sayang sekali tur ini tanpa penunjuk wisata, atau paling nggak brosur yang menjelaskan bangunan apa saja  yang kami lewati dengan kereta itu.

Tiket masuknya cukup murah lho, Rp 1000 per orang, parkir mobil 2000, motor 1000.  Naik kereta ‘kelinci’  yang rutenya pendek hanya 3000, tapi kereta uap yang lebih panjang Rp 5000. Memagn sih, kalo mau ikutan outbound, masuk arena anak-anak, juga bayar lagi. Tapi cukup murah juga untuk ukuran warga Karanganyar. Tak heran kalo siang hari Minggu itu suasana cukup ramai.

Lumayanlah, kalau tiap pulang kampong ada tempat-tempat baru yang bisa diliat :)

Dscn2177_resize
Gedung pusat pabrik gula Tasikmadu



Dscn2191_resize
Suasana taman Sondokoro menjelang magrib



Dscn2198_resize
Kereta wisata  yang mengeliling lokasi pabrik



Dscn2203_resize
Sepur tebu antri masuk..



Dscn2206_resize
Sisa kejayaan masa lalu pabrik gula..

Friends will be friends

For the past years, I have said goodbyes to many dear friends. And today I waved goodbye to one of my dearest friends that I've known for more than 14 years. We've been through a lot of things together, and the bond grew stronger since we started working at the same place and shared the same passion to our work. She's done a great job as the leader in our small organization - a smart, funny, wonderful person who seems to have a lot of energy for work and fun, a huge stock of patience to deal with a lot of difficult people, and brains that seems never stop thinking.

Although I know this goodbye, like many other goodbyes, doesn't mean the end of our friendship, it's still difficult to think that you are not going to see your close friends that often again. True, emails, messenger, and telephone make the distance closer, but they cannot replace the face-to-face interaction, the long conversation over coffee (and sometimes beer), sharing (clean and dirty) jokes, and so on. If I can make a wish, I will make a wish that I can see all of them more often and have them (or me) not moving to the other part of the world. But that's just a wish, of course. I will see them again someday, and meanwhile, thanks to Alexander Graham Bell and his telephone invention, google chat, yahoo messenger, gmail, ecards, cellular phone and sms, for reducing the distance.

Creeping Sharia Bylaw?

A friend recently forwarded an article on Time magazine about the grim picture of Islam in Indonesia. The article warned readers about the increasing tendency of sharia to be implemented in Indonesia. As the article says, though many Indonesians are generally known as moderate Muslims and that the number of radical Muslims is minority, the latter group has increased their influence.

The article itself troubled me a little, because at the end it seems to picture that a girl who chooses to ‘bow her head for prayer’ instead of ‘donning miniskirts for a cruise around campuses' is a symbol of the rise of fundamentalism/radicalism in Islam, instead of an act of someone who simply decides to follow her religion.

But the fact that radical interpretation of Islam (which tends to be intolerant) flourish, is indeed creepy. Though majority of Muslims are said to be moderate, their voice seemed to be swallowed by this shariah movement. The discourse of being a good Muslim is dominated by the ‘improving the moral of t he people’, which is then translated into some superficial symbols like wearing scarf, stoning adulterers, the ability to recite Al Quran, etc.

I am a Muslim, wearing jilbab, and the first general election after Reformasi, voted for PKS. In the 2004 election I didn’t vote for legislative member but voted for Amien Rais for president. But this trend worries me, too. If women are forced to wear jilbab for instance, it just denies one of the principles that Islam endorses, that is, no force in religion (“tidak ada paksaan dalam beragama”). The fact that women became the main target of sharia implementation is troubling, because it implies that women are the source of social problem. They don’t care that women who are on the street after sunset are those who just return from work. Besides, a thing like prostitution takes two to tango – the woman who sells her body, and the man who buys it. So it is unfair that women should be the main object of sharia.

Another problem is that the discourse on Islam today didn't address one important problem in Indonesia. During these years the number of poor people in Indonesia is stubbornly high. If we want to discuss how Islam could solve the nation’s problem, I think instead of dealing with jilbabs, we should look at how the principle in Islam can be promoted to alleviate poverty. As far as I understand there are strict principles in Islam on looking at poverty. It is not seen as the failure of the poor, it is seen as a community problem. In many hadith Prophet has remind us that a Muslim is not a good Muslim to fall asleep when his/her neighbors are starving. Even the concept of zakat is not seen as a charity, it is an obligation (one of the five pillars of Islam) for wealthy Muslims, because in every wealth that we collect, there is a part that belongs to the poor. Therefore, we should purify our wealth by paying zakat.

Should we promote more alternative Islamic movements for this trend? I think so. Proponents of sharia laws usually accused those who are critical to it as being not a good Muslim, a Western-adorer, or even an ‘infidel’ (as accused to Ulil Absar-Abdala and JIL people). But to me, Islam is inclusive. It should open more discussion on its interpretation. The Prophet did fight against the infidels in Mecca, but he never forced religion to his people. He even protected the Jews in Madina. So who we are to have the right to attack people who have different interpretation of Islam or force sharia to people from different religion?

Siapa Mau Jadi Petani? Oleh-oleh dari Salatiga

Minggu kemarin saya nengok Tri dan Alwi, teman-teman Akatiga yang sedang melakukan penelitian di Salatiga. Penelitian mereka mengambil tema generasi muda di pedesaan. Intinya sih kita ingin melihat gimana perspektif dan pandangan anak-anak muda di pedesaan tentang penghidupan di pedesaan, terutama terkait dengan pertanian. Sengaja desa yang dipilih adalah desa-desa yang punya akses yang cukup bagus dengan perkotaan, baik dari sarana komunikasi maupun transportasi.Salatiga sendiri kota yang cukup menyenangkan. Tiga hari di sana tentu tidak cukup untuk mengeksplorasi kota tersebut dengan dalam, tapi kesan pertama adalah kota ini cukup bersih dan rindang. Kota ini konturnya berbukit-bukit, mirip Bandung, tetapi tidak sepadat Bandung. Barangkali itulah yang menyebabkan kota ini masih terasa cukup sejuk dan tidak sumpek. Pepohonan masih ada di mana-mana, termasuk di dalam kampus seperti dalam kampus STAIN ini.

Kembali ke penelitian. Memang sudah diketahui secara umum bahwa pertanian, khususnya pertanian sawah, menurun. Tidak hanya orang-orang mudanya yang kurang berminat untuk menjadi petani sawah, orang-orang tua petani pun sering menganjurkan agar anak-anaknya belajar yang rajin, supaya tidak menjadi petani seperti mereka. « Dadi petani ki rekoso, Le, Nduk, » demikian kira-kira wejangan mereka pada anak-anak mereka. « Ben pakmu-mbokmu wae sing ngrasakne. » Maka tak heran kalau di desa-desa penelitian tersebut anak-anak mudanya banyak yang bermigrasi ke kota, menjadi buruh industri atau perdagangan, atau bahkan sekalian ke luar negeri menjadi TKI/TKW.

Memang ada yang bertahan, tapi para petani yang bertahan ini mengungkapkan sulitnya mencari buruh ketika musim tanam tiba.  Juga ada alternatif-alternatif yang lebih menguntungkan dari sisi ekonomi, seperti menanam padi (atau buah atau sayur) organik. Tetapi kebanyakan petani kemudian terpaksa menjual produk-produk organik yang harganya mahal tersebut kepada konsumen kelas atas dan kemudian mereka sendiri membeli produk non-organik, dengan kualitas rendah. Banyak kira-kira yang menyebabkan masa depan pertanian (sawah) tampaknya tidak terlalu cerah.

Mengingat itu semua, saya juga jadi berpikir bahwa dari kecil memang tidak terpikir oleh saya untuk bercita-cita jadi petani (walaupun peneliti juga bukan cita-cita masa kecil saya. Ketika TK, saya punya cita-cita jadi dokter).  Meskipun sudah mengambil kuliah ‘Food System Planning » yang antara lain menganjurkan kita untuk sedikit bertanam, untuk merasakan makanan hasil keringat kita sendiri, dan walaupun sudah ada niatan ke situ, sampai saat ini saya masih malas bergaul dengan tanah dan tanaman. (Kecuali pada masa singkat ketika saya bekerja sebagai buruh tani di perkebunan berry di Silvan). Bahkan meskipun Bapak punya sawah, saya nggak pernah tahu di mana lokasinya, luasnya berapa, ditanami apa, siapa yang mengerjakan, de el el. Akhirnya dua hari lalu Bapak memberikan tur singkat menunjukkan lokasi-lokasi sawah tersebut dan siapa yang mengerjakan.  Lokasi sawah-sawah Bapak tersebut berada di tengah-tengah sawah lain, tapi di sana-sini sudah mulai terkepung oleh proyek perumahan model cul-de-sac. Tampaknya urban sprawl memang sudah merambah ke daerah kami.

Jadi, siapa yang mau jadi petani ?

Resize_of_nurul_salatiga_012 Pinggir sungai di Salatiga, cukup bersih

Resize_of_nurul_salatiga_013Kampus STAIN

Resize_of_nurul_salatiga_019Mushola di tengah sawah, di desa Popongan

Resize_of_nurul_salatiga_022
Kesibukan di sawah...

Resize_of_nurul_salatiga_034_1Gunung Merapi dari Salatiga..

Siapa Mau Jadi Petani? Oleh-oleh dari Salatiga

Minggu kemarin saya nengok Tri dan Alwi, teman-teman Akatiga yang sedang melakukan penelitian di Salatiga. Penelitian mereka mengambil tema generasi muda di pedesaan. Intinya sih kita ingin melihat gimana perspektif dan pandangan anak-anak muda di pedesaan tentang penghidupan di pedesaan, terutama terkait dengan pertanian. Sengaja desa yang dipilih adalah desa-desa yang punya akses yang cukup bagus dengan perkotaan, baik dari sarana komunikasi maupun transportasi.Salatiga sendiri kota yang cukup menyenangkan. Tiga hari di sana tentu tidak cukup untuk mengeksplorasi kota tersebut dengan dalam, tapi kesan pertama adalah kota ini cukup bersih dan rindang. Kota ini konturnya berbukit-bukit, mirip Bandung, tetapi tidak sepadat Bandung. Barangkali itulah yang menyebabkan kota ini masih terasa cukup sejuk dan tidak sumpek. Pepohonan masih ada di mana-mana, termasuk di dalam kampus seperti dalam kampus STAIN ini.

Kembali ke penelitian. Memang sudah diketahui secara umum bahwa pertanian, khususnya pertanian sawah, menurun. Tidak hanya orang-orang mudanya yang kurang berminat untuk menjadi petani sawah, orang-orang tua petani pun sering menganjurkan agar anak-anaknya belajar yang rajin, supaya tidak menjadi petani seperti mereka. « Dadi petani ki rekoso, Le, Nduk, » demikian kira-kira wejangan mereka pada anak-anak mereka. « Ben pakmu-mbokmu wae sing ngrasakne. » Maka tak heran kalau di desa-desa penelitian tersebut anak-anak mudanya banyak yang bermigrasi ke kota, menjadi buruh industri atau perdagangan, atau bahkan sekalian ke luar negeri menjadi TKI/TKW.

Memang ada yang bertahan, tapi para petani yang bertahan ini mengungkapkan sulitnya mencari buruh ketika musim tanam tiba.  Juga ada alternatif-alternatif yang lebih menguntungkan dari sisi ekonomi, seperti menanam padi (atau buah atau sayur) organik. Tetapi kebanyakan petani kemudian terpaksa menjual produk-produk organik yang harganya mahal tersebut kepada konsumen kelas atas dan kemudian mereka sendiri membeli produk non-organik, dengan kualitas rendah. Banyak kira-kira yang menyebabkan masa depan pertanian (sawah) tampaknya tidak terlalu cerah.

Mengingat itu semua, saya juga jadi berpikir bahwa dari kecil memang tidak terpikir oleh saya untuk bercita-cita jadi petani (walaupun peneliti juga bukan cita-cita masa kecil saya. Ketika TK, saya punya cita-cita jadi dokter).  Meskipun sudah mengambil kuliah ‘Food System Planning » yang antara lain menganjurkan kita untuk sedikit bertanam, untuk merasakan makanan hasil keringat kita sendiri, dan walaupun sudah ada niatan ke situ, sampai saat ini saya masih malas bergaul dengan tanah dan tanaman. (Kecuali pada masa singkat ketika saya bekerja sebagai buruh tani di perkebunan berry di Silvan). Bahkan meskipun Bapak punya sawah, saya nggak pernah tahu di mana lokasinya, luasnya berapa, ditanami apa, siapa yang mengerjakan, de el el. Akhirnya dua hari lalu Bapak memberikan tur singkat menunjukkan lokasi-lokasi sawah tersebut dan siapa yang mengerjakan.  Lokasi sawah-sawah Bapak tersebut berada di tengah-tengah sawah lain, tapi di sana-sini sudah mulai terkepung oleh proyek perumahan model cul-de-sac. Tampaknya urban sprawl memang sudah merambah ke daerah kami.

Jadi, siapa yang mau jadi petani ?

Resize_of_nurul_salatiga_012 Pinggir sungai di Salatiga, cukup bersih

Resize_of_nurul_salatiga_013Kampus STAIN

Resize_of_nurul_salatiga_019Mushola di tengah sawah, di desa Popongan

Resize_of_nurul_salatiga_022
Kesibukan di sawah...

Resize_of_nurul_salatiga_034_1Gunung Merapi dari Salatiga..

Angkot oh angkot...

Salah satu tes kesabaran yang menurut saya paling besar adalah naik angkot pulang ke rumah pas jam kantor di saat hujan.  Jarak dari rumah ke kantor memang sudah cukup jauh, ditambah melewati beberapa titik macet, mulai dari Ahmad Yani, Jl. Jakarta, sampai di Jl. Kiaracondong. Memang sekarang sudah ada fly over di Kiara Condong, tapi angkot dilarang naik ke fly over itu (meskipun kadang-kadang, terutama pagi hari, banyak angkot yang curi-curi juga). Kemudian di bawah fly over itu ada pasar dan rel kereta api.  Kemudian pertemuan Kiara Condong dengan Gatut Subroto - tempat  salah satu mall terbesar di Bandung, BSM, berlokasi. Selepas jalan Kiara Condong, masuk ke Margacinta, memang tidak terlalu padat, tapi jalannya agak rusak dan kadang-kadang kalau hujan sedikit banjir.  Semua ditambah dengan kelakuan sopir angkot sendiri yang lupa kalau yang diangkut itu manusia (makanya mereka menyebut 'penumpang' dengan istilah 'muatan), ngebut dan ngetem sembarangan. Ditambah lagi dengan ketika turun atau menyeberang jalan, ada rasa kuatir disambar motor-motor yang kok jumlahnya makin banyak dan makin ngebut.

Saya dari dulu memang pengguna setia angkot, jadi seharusnya sudah mafhum dengan perilaku angkot kota Bandung ini. Tapi barangkali memang masih 'reversed shock culture', sering sekali dalam perjalanan pulang rasa kesal itu menggunung. Kesal pada sopir angkot yang ngebut dan ngetem, kesa pada pengendara motor yang suka ngeklakson nggak sabaran dan nyelonong meskipun jelas2 ada yang nyebrang jalan, di zebra cross lagi, kesal pada mobil-mobil bagus yang ternyata pengemudinya sama aja kelakuannya dengan sopir angkot. Jalan raya seolah menjadi sumber kekesalan yang nggak habis-habisnya. Of all the things that I have to adjust back home, this is surely the hardest one.

Sebenarnya saya juga sedang mempertimbangkan untuk membeli motor, tapi saat ini masih ada beberapa hal yang mengganjal. Pertama, saat ini Bandung masih sering hujan, dan saya masih agak malas berhujan-hujan naik motor. Kedua, walaupun beli motor akan lebih cepat dan irit, rasanya kok bukannya ikutan memecahkan masalah kemacetan di Bandung, malah ikutan nambah lagi. Ketiga, saya orangnya gampang hilang konsentrasi. Kalau naik motor gampang meleng. (Walaupun kata salah satu teman, menjalankan kendaraan baik mobil maupun motor bisa membantu meningkatkan dan menjaga konsentrasi kita, supaya tidak cepat pikun).  Keempat, kabarnya meningkatnya kepemilikan motor menurunkan jumlah penumpang angkutan umum. Kasihan juga sih ngeliat barisan angkot panjang yang cuma terisi paling banter empat sampai lima orang.

Barangkali angkutan umum yang cepat, masal, dan murah memang masih jadi impian. Seorang teman lain kemarin bercerita bahwa pada awal Orba sebenarnya DPR sudah menggagas adanya mass rapid transport system di Jakarta. Pada saat itu sebenarnya pembangunan MRT masih memungkinkan karena penduduknya masih belum sepadat sekarang. Tetapi kemudian rencana itu gagal karena perusahaan-perusahaan otomotif Jepang kemudian memberikan mobil pada tiap anggota DPR - yang tujuannya agar pembangunan sistem transportasi di Jakarta dititikberatkan pada pembangunan jalan raya, yang berarti meningkatkan jumlah pengguna mobil, yang pada ujung-ujungnya mendongkrak penjualan mobil Jepang. Seberapa jauh cerita ini, tentunya perlu dicek. Tapi bahwa sistem transportasi kita dibangun dengan lebih mengutamakan pemilik kendaraan pribadi dibandingkan dengan penyediaan transportasi umum yang baik, hal itu terlihat jelas. Janganlah dibandingkan dengan negara maju (di Melbourne, tiap ada event berskala besar seperti pertandingan olahraga, pemerintah kota menyediakan transpor gratis menuju tempat event tersebut). Tapi mbok yao ada upaya buat bikin kita-kita ini lebih mau naik transpor umum... Gimana nih, pak walikota, bapak-ibu anggota dewan (pernah naik angkot nggak ya mereka?). bapak-ibu perencana kota? (Hehehe.. nggak ngaku ah kalo lulusan jurusan planologi)

Singkatan singkatan...

Pernah nggak anda memperhatikan bahwa Bahasa Indonesia, khususnya yang dipakai di lingkungan pemerintah, penuh dengan singkatan? Tadi seharian penuh ikutan diskusi di Bapeda Bandung, dan dalam forum diskusi itu berseliweranlah berbagai singkatan, mulai yang cuma pakai huruf2 depannya saja seperti SKPD sampai yang pakai suku kata kayak Bapeda. Ini nih beberapa singkatan yang muncul dalam diskusi tadi (hadiah buat yang bisa menebak dengan benar semua singkatan itu):

Bapeda, Musrenbang, TKPTD, RPKD, SPKD, TPT, AKP, RPJMD, IPM, PPK, P2KP, KDP, APBD, PRJP, BKBD, PPK, RSK, DKCKB, KK, UKMK, LKM, BPS, Dinsos, Renja, RTL, dll (catatan: yang terakhir ini bukan singkatan yang muncul dari diskusi, tapi aku tambahin sendiri..)

Jadi inget lagunya Bimbo yang juga ngomongin singkatan ini. Gara-gara banyak singkatan yang membingungkan ini, Bimbo juga ikut-ikutan dengan bilang bahwa Elvis itu singkatan dari Elvi Sukaesih, dan saking bingungnya, Bimbo mengakhiri lagu itu dengan bilang bahwa dsb itu singkatan dari 'dan saya bingung..'